Air zam-zam, siapa yang tak mengenalnya? Dari yang memang muslim hingga non muslim di seluruh dunia sepertinya sudah tau keberadaan air ini.
Ya, air zam-zam adalah air spesial yang mata airnya hanya ada di tanah suci Mekkah. Lalu bagaimana sejarah munculnya mata air ini dan apa saja fakta ajaibnya yang perlu diketahui. Simak selengkapnya berikut ini.

Sejarah Mata Air Zam-zam
Kisah ini bermula dengan Nabi Ibrahim a.s., seorang nabi besar dalam agama Islam, yang menerima perintah dari Allah untuk meninggalkan istri beliau, Siti Hajar, dan anak mereka, Ismail, di sebuah lembah tandus di Mekah. Pada saat itu, Mekah masih merupakan tempat yang gersang dan tidak berpenghuni.
Baca juga : Rugi Jika dilewatkan! 11 Rekomendasi Wisata Religi di Tanah Suci
Meskipun heran, dan mungkin merasa sedih, namun Siti Hajar menerima keputusan ini dengan keimanan penuh kepada Allah. Setelah beberapa waktu, bekal air yang mereka bawa habis. Ismail yang masih bayipun mulai menangis karena kehausan. Meskipun dengan perasaan Kebingungan, namun Siti Hajar tetap yakin kepada Allah.
Siti Hajar pun mulai berlari-lari mencari air. Dia berlari antara dua bukit, Safa dan Marwah, sebanyak tujuh kali, berharap menemukan sumber air atau pertolongan dari musafir yang mungkin lewat. Dalam keadaan yang sangat kelelahan, iapun kembali ke tempat Ismail yang ditinggalkan menangis.
Seketika itulah ia menemukan bahwa air sedang memancar dari tanah dekat kaki bayi Ismail. Lalu dengan segera Siti Hajar mengumpulkan air itu dengan tangannya dan memberikannya kepada Ismail. Dalam sejumlah riwayat juga dikatakan, bahwa air Zamzam terpancar dengan deras setelah malaikat Jibril, atas perintah Allah, memukul tanah dengan sayapnya atau tumitnya (ada beberapa versi riwayat tentang ini).
Zamzam dalam bahasa Arab: زمزم berarti banyak atau melimpah-ruah. Hal ini dibuktikan dari kondisi mata air zam-zam yang memang tidak pernah berhenti mengalir deras hingga saat ini.
Perlu diketahui juga bahwa mata air ini sempat terkubur dan terlupakan oleh penduduk Mekah selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya Kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muttalib, menerima petunjuk melalui mimpi untuk menggali kembali sumur Zamzam.
Lalu Dengan penuh keimanan dan usaha, Abdul Muttalib menggali dan menemukan kembali sumur tersebut, mengembalikannya ke dalam kehidupan masyarakat Mekah hingga saat ini. Kini di kota Mekkah, sumur air zam-zam telah dialirkan ke berbagai titik di kota Makkah, termasuk di areal Masjidil Haram.
Baca juga : Tips Belanja Oleh-oleh Aman dan Hemat di Tanah Suci
Bahkan, bagi para pengunjung atau peziarah yang datang, dapat mengambil air zam-zam dari kran-kran yang terdapat di sejumlah titik area Masjidil Haram.
Sejumlah Fakta Ilmiah
Lalu, apa saja kelebihan dan keutamaan air zam-zam ini dari sisi keilmuan? Berikut penjelasannya.
Dilansir dari laman id.wikipedia.org, dijelaskan bahwa Air zamzam tidak berwarna dan tidak berbau, namun memiliki rasa yang berbeda. Lebih lanjut air zam zam ini memiliki kadar pH 7,5–7,7, yang menunjukkaan bahwa air ini merupakan larutan basa sampai batas tertentu.
Dari sisi keilmuan, melalui berbagai penelitian ilmiah yang dipublikasikan, ada sejumlah kandungan air zam-zam yang membuatnya terkenal akah khasiatnya, bahkan banyak yang menyebutnya air ajaib. Berikut ini kandungan dalam air zam-zam antara lain :
| Konsentrasi mineral seperti yang dilaporkan peneliti di Universitas Raja Saud[10] | ||
|---|---|---|
| mineral | konsentrasi | |
| mg/L | oz/cu in | |
| Natrium | 133 | 7,7×10−5 |
| Kalsium | 96 | 5,5×10−5 |
| Magnesium | 3.888 | 0,002247 |
| Kalium | 433 | 0,000250 |
| Bikarbonat | 1.954 | 0,001129 |
| Klorida | 1.633 | 0,000944 |
| Fluorida | 072 | 4,2×10−5 |
| Nitrat | 1.248 | 0,000721 |
| Sulfat | 1.240 | 0,00072 |
| Padatan terlarut total | 835 | 0,000483 |
Di dalam Islam sendiri, dalam banyak riwayat hadist shahih dikemukakan, bahwa meminum air zam-zam dengan suatu niat atau tujuan tertentu akan dapat membuat lebih cepat terwujudnya.
Seperti asy-Syaukani yang menafsirkan makna hadis Muhammad tentang ‘air Zamzam itu tergantung tujuan orang yang meminumnya. Ini merupakan dalil bahwa air Zamzam akan mendatangkan berbagai macam manfaat sesuai tujuan yang diinginkan orang yang meminumnya, baik yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan ukhrawi.
Kemudian ada Al-Munawi dalam “Faidh al-Qadir” menyebutkan bahwa banyak ulama yang meminum air Zamzam dengan tujuan mereka, dan kemudian mereka pun mendapatkannya. Sehingga terdapat sejumlah faedah (dalam bahasa arab) terkait khasiat meminum air zam-zam diantaranya :
- Syaba’ah, artinya mengenyangkan. Setiap orang yang meminum ini pasti akan merasa kenyang.
- Murwiyah, artinya penyegar. Air ini sungguh menghilangkan dahaga bagi yang meminumnya.
- ‘Afiyah, artinya sehat. Air Zamzam memang dikenal dapat menolak penyakit.
- Nafi’ah, artinya bermanfaat. Air Zamzam dikenal sangat bermanfaat, seperti menguatkan hati, atau menghilangkan ketakutan.
- Maimunah, artinya berkah. Berkah air ini sudah sangat dirasakan banyak orang.
- Barrah, artinya memiliki kebaikan. Air Zamzam ini sangat baik bagi yang meminumnya untuk memeroleh keberkahan.
- Madhmunah, artinya bagus. Karena, indahnya air Zamzam ini, maka Allah Melarang suatu kaum dari bangsa Arab yang tinggal di sekitar sumur ini untuk bermaksiat.
- Kafiyah, artinya mencukupi. Orang yang meminum ini akan merasa cukup atau puas saja.
- Syifa’ saqamin, artinya menyembuhkan penyakit. Karena air ini dapat dijadikan obat penyakit bagi yang meminumnya.
- Mu’zhibah, artinya mencegah rasa dahaga. Rasanya antara manis atau tawar. Karena sifat inilah, air Zamzam punya fadhilah/keutamaan seperti ini. Hanya saja, setelah dibawa pulang ke Indonesia, rasanya sedikit berubah.
- Tha’amu Tha’min, artinya mengenyangkan. Orang yang meminum air Zamzam akan merasa kenyang.
- Hazmatu Jibril, artinya injakan tumit Malaikat Jibril. Sesuai dengan asal mulanya air Zamzam.
- Maghfurah, artinya pengampunan. Orang yang minum air Zamzam, akan diampunkan dosanya.
Nah, demikian ulasan terkait air zam-zam kali ini. Bagi anda yang butuh konsultasi visa gratis dapat menghubungi kami melalui laman Hubungi Kami.