0819-0909-0990 Admin mandalikawisata10@gmail.com

Haji tak perlu bawa rice cooker apalagi pemanas air saat berangkat ke tanah suci, pasalnya semua sudah di sediakan lho.

haji terkini,,,
Sumber : laman Kemenag Kepri

Pagi ini saya senyum-senyum sendiri membaca berita di salah satu laman surabaya.kompas.com yang memberitakan bahwa ada calon jamaah haji asal Jember yang kedapatan membawa rice cooker dan pemanas air saat berangkat. Hal ini diketahui saat pemeriksaan koper yang dilakukan petugas haji di Surabaya.

Meskipun sudah diinformasikan kepada calon jamaah perihal apa yang boleh dan tidak boleh dibawa, namun ternyata masih ada saja calon jamaah yang berinisiatif membawa barang-barang elektronik ini. Padahal seluruh konsumsi dan fasilitas itu sebenarnya telah ada dan tersedia di tanah suci.

Baca juga : Kabar Gembira: Inovasi Kemenag Konsumsi Penuh Bagi Jemaah Haji Tahun ini!

Namun tak bisa juga kita salahkan ketika mereka berinisiatif membawa barang-barang ini, pasalnya mereka baru pertama kali dan tentunya akan ada kekhawatiran bahwa di tanah suci nanti tidak bisa menikmati makan cukup atau minum air hangat. Pasalnya mungkin seperti itulah yang mereka pikirkan. Selain itu mereka juga pastinya banyak mendengar dari jamaah dhaji yang pernah berangkat sebelumnya.

Dari seorang rekan saya yang kebetulan sudah lama berkecimpung di bisnis haji dan umrah juga, akhirnya kami kupas sedikit mengapa masih ada saja calon jamaah yang akan berangkat ke tanah suci dan membawa barang-barang yang di larang. Ternyata kesimpulan kami sama, bahwa kebanyakan jamaah belum teredukasi untuk mengenali sejumlah barang-barang atau fasilitas di hotel maupun terkait fasilitas yang di sediakan pemerintah di tanah suci.

Contoh kecil saja, mereka yang awam berasal dari daerah kampung atau pinggiran yang memang notabene tidak pernah masuk hotel misalnya, akan bingung dan mungkin tidak berani menyentuh ineventaris hotel yang di sediakan karena takut rusak dsb. Belum lagi ketika mandi, yang biasanya mandi dengan gayung dan tidak tahu bahwa di situ disediakan mandi air panas alias water heater maka akan berinisiatif membawa gayung.

Tidak bisa kita salahkan juga jika dari cerita rekan mereka yang telah kembali dari haji kemudian mengatakan jika kita lapar malam, mending bawa rice cooker supaya bisa masak sendiri. Semuanya berawal dari ketidaktahuan dan kurangnya edukasi jamaah juga.

Padahal kalau kita mau melihat fakta lapangan, sebenarnya sudah disediakan semua jauh-jauh hari oleh pemerintah. Nah Berikut beberapa fasilitas yang sebenarnya sudah disediakan dan dibayar penuh bagi jamaah haji antara lain :

  1. Konsumsi penuh mulai dari makan 3x sehari sampai camilan
  2. Transportasi pengangkutan jamaah
  3. Fasilitas kesehatan mulai dari dokter hingga rumah sakit rujukan

Lalu apa penyebab sehingga terjadi jamaah lapar malam, atau jamaah terlambat di jemput dan sejumlah keluhan jamaah lainnya? Berikut beberapa penjelasan yang dapat kami sampaikan.

Masalah Konsumsi jamaah haji

Sebenarnya konsumsi yang disediakan pemerintah Indonesia itu bekerjasama dengan penyedia jasa konsumsi atau katering di tanah suci dan itu sudah dibayar penuh di depan. Namun tidak bisa dipungkiri ada saja provider catering yang nakal sehingga tak jarang makanan yang seharusnya disajikan catering di berikan packing, belum lagi jika makanan tersisa dan di bereskan sebelum waktunya.

Padahal ketika makanan tersisa, harusnya jamaah bisa mengambil makanan kapanpun mereka inginkan, kecuali jika makanan tersebut memang sudah basi. Tidak hanya itu, makanan yang diberikan dengan jadwal 3x sehari itupun sebenarnya di dampingi dengan camilan, tapi tentu saja oleh oknum provider kadang tidak disajikan.

Hal ini tentunya akan membuat jamaah mendapat pengalaman tidak menyenangkan untuk diceritakan kepada yang lain. Hal inilah yang kemudian akan menjadi cikal bakal cerita “kalau malam lapar bisa masak sendiri” (bawa rice cooker) antara jamaah yang pernah berangkat dengan yang belum pergi haji,

Transportasi haji

Beberapa cerita lain juga tentang lambannya transportasi atau bus yang akan membawa jamaah saat menjalankan prosesi ibadah haji misalnya, hal ini bukan tanpa sebab. Karena meskipun sudah dibayar di depan juga, ada juga oknum yang memang tidak baik dalam memberikan layanan, entah sengaja atau tidak.

Sehingga banyak isu yang beredar bahwa “pemerintah tidak becus mengakomodir fasilitas transportasi yang baik”. Padahal ini merupakan kesalahan dari pihak provider dan bukan organizer.

Fasilitas Kesehatan

    Tidak hanya dokter yang tersebar di beberapa titik, namun rumah sakit rujukan yang akan menjadi tujuan jamaah sakit untuk mendapatkan perawatan pun sudah di petakan dan dipikirkan mekanisme nya. Tidak hanya di Mekkah namun apabila di pesawat ada jamaah sakit, sehingga harus transit pun sudah di pikirkan.

    Oleh sebab itu, sebenarnya jamaah tidak perlu khawatir terkait layanan perawatan maupun medis saat menjalankan ibadah haji. Semua sudah di pikirkan oleh Pemerintah, bahkan termasuk inovasi layanan haji ramah lansia yang semakin dimatangkan tahun ini.

    Jemaah Haji di Atas 65 Tahun Tak Perlu Khawatir: Kemenag Matangkan Program Ramah Lansia

    Jujur saja, saya pribadi bukan ingin membela Pemerintah atau pun maksud lainnya. Namun semata ingin mengedukasi para calon jamaah maupun masyarakat terkait fakta di lapangan berdasarkan pengalaman kami pun dengan pengalaman rekan-rekan lainnya di dunia travel haji dan umrah.

    Satu hal yang pasti bahwa tidak ada yang sempurna, namanya juga kemampuan manusia. Terjadi kekurangan itu hal biasa, namun tentu saja mengambil langkah perbaikan menjadi sebuah keharusan.

    Doa saya dan kita semua, Semoga Pemerintah kita terus melakukan langkah langkah perbaikan nantinya, dan semoga ibadah haji jamaah asal Indonesia selalu sehat dan sukses dalam menjalankan ibadah hajinya.

    Translate ยป